Osjur gua terngiang, duit gua melayang!

January 18th, 2009 by djhard

Malam gini, ga bisa tidur, ga ada kuliah, ga ada yang bisa dipikir. Mending ngitung budjet yang udah gua keluarin buat OSPEK gua aja.

  1. Carrier Avtech Outsider 80 Rp. 297.000,-
  2. Jaket Avtech Windbreaker Rp. 125.000,-
  3. Rain Cover Rp. 30.000
  4. Plastik Cor Rp. 20.000
  5. Alat tulis Rp 10.000
  6. Sleeping Bag Zake Rp. 125.000
  7. Balaclava Rp 6.000
  8. Kaos tangan Rp 5.000
  9. Matras Rp 25.000
  10. Botol minim tentara Rp 35.000
  11. Bahan makan 140.000
  12. Topi lapangan Zake Rp 25.000
  13. Baju Flanel 2 Rp 27.500
  14. Celana Tentara Motif Germany 55.000
  15. Celana Lapangan (2) Rp 60.000
  16. Suporter Rp 25.000
  17. Kaos kaki tentara (4) Rp 15.000
  18. Sepatu Lapangan Hi-Tech V-Lite Rp 200.000 (Hilang)
  19. Sepatu Lapangan NoFear Rp 400.000
  20. Baju ganti (2) Rp 25.000
  21. Ikat Pinggang Boogie Rp 45.000
  22. Tali sepatu cadangan Rp 2.000
  23. Senter Rp. 30.000
  24. Bohlam Rp. 2.800
  25. Baterai (3 pasang) Rp. 24.000
  26. Kotak film (Vit. C IPI) Rp. 3.000
  27. Betadine Rp
  28. Plester + Pembalut + Mitela = Rp 17.800
  29. Oralit (15) 6.000
  30. Oralit rasa jeruk (5) 4.000
  31. Alat Medik Rp 90.000
  32. Cutter + Gunting Rp 10.000
  33. Ponco Tentara Rp 25.000
  34. Benang + Jarum + Peniti Rp 5.000
  35. Tali Plastik + Tissue 3.800
  36. Tissue Gulung 1.500
  37. Kompor Lapangan + Parafin Rp 12.000
  38. Kompas Bidik Rp 130.000
  39. Tali Pramuka 10.000
  40. Pisau lipat Rp 15.000
  41. Transport (app) 300.000

Hitung aja sendiri, gua ga tega ngitung. Hasil hitungannya, taruh di komen yak. Prediksi gua sih balan sekitar 2 jt. Hiks, mahal banget osjur gua!

Be a good man or be a rich man?

August 8th, 2008 by djhard
Mau cerita nih…

var curDiv = document.getElementById(’ln0′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}

Alhamdulillah masuk Geologi ITB. jurusan yang paling diminati di fakultas ku, FITB.

var curDiv = document.getElementById(’ln1′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}

var curDiv = document.getElementById(’ln2′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}

Tapi
masuk jurusan ini rupanya nambah kebimbangan dlm hidup. Be good man or
be a rich man? Ada banyak fokus keilmuan yang ditawarkan, dua
diantaranya yang menarik bagi saya adalah Geologi Petroleum dan Geologi
Hazard.

var curDiv = document.getElementById(’ln3′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}

var curDiv = document.getElementById(’ln4′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}

Di
Geologi Petroleum, lulusannya bisa bekerja di bidang eksplorasi minyak
bumi. Penghasilannya? Jangan ditanya, lumayan besar. Namun gaji itu
tidak setara jika dibandingkan dengan kehidupan interaksi sosial yang
nantinya disita karena harus bekerja siang-malam.

var curDiv = document.getElementById(’ln5′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}

var curDiv = document.getElementById(’ln6′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}

Di
Geologi Hazard, lulusannya dibekali ilmu lebih tentang Mitigasi Bencana
Alam. Kita tahu kan, Indonesia di dera bencana Geologi akhir-akhir ini.
Lumpur lapindo, Tsunami, Gempa Bumi, dll. Jadi ilmunya bisa diterapkan
untuk kemashlahatan ummat. By the way, udah pada tahu semua kan? kerja
dibidang ginian ga terlalu dihargai di Indonesia, alias ga ada duitnya!

var curDiv = document.getElementById(’ln7′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}

var curDiv = document.getElementById(’ln8′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}

Ehm,
having fun aja nih guys… Menurut kalian, untuk seorang Ardi, mana
yang lebih cocok. Petroleum Geologi atau Geologi Hazard? Be a good man
or be a rich man? Kirimi aku testimonial u/ bantu aku dari kebimbangan
ini. Sertain alasannya ya! thanks!

Cerita dari Nurul Fikri Mampang

November 26th, 2007 by djhard

Cerita dari Nurul
Fikri Mampang

 

"Gunalah
kelebihan yang ada, demi keagungan agama dan bangsa…

Bersyukurlah atas
nikmatnya…bersabarlah dengan cobaannya…

Bertaqwalah dirimu
kepadanya pahala berganda ganjarannya

Jika nafsu dapat
kau tahan tangisanmu hanya karena Tuhan

Hatimu terpaut pada
rumahnya Nikmat surga akan kau rasa" (Raihan-Adikku Remajaku)

 

Lagu ini memang cocok diperuntukkan buat sahabatku di Jakarta sana.
Semoga rasa cintaNya selalu bersama kalian, saudaraku, remaja yang selalu
mengorbankan masa mudanya untuk teguh di jalanNya.

 

Belajar agama dan sains adalah hal yang berbeda dan sulit dipersatukan
bagi sebagian orang. Namun tidak bagi pelajar di Nurul Fikri Mampang Jakarta
(NF Mampang). Mereka membentuk kelompok belajar yang bernama Mabit. Mereka yang
tergabung belajar di sana memiliki jadwal dua kali setiap minggu untuk bermalam
di NF Mampang dan belajar tentang sains dan agama dari ba’dha isya hingga
menjelang subuh. Sungguh luar biasa tekad mereka, ingin membahagiakan orang tua
mereka, ingin agar belajar di Universitas ternama, dan ingin beribadah karena
belajar merupakan perintah dari Allah.

 

Di saat menjelang SPMB, mereka menambah jadwal mereka menjadi tiga kali
pertemuan di setiap minggu. Dan ada beberapa siswa yang NF non-mabit menjadi tertarik
untuk ikut mabit karena mungkin terdesak waktu dan kegelisahan menjelang ujian,
mereka ini disebut Mabit visitor. Saya termasuk satu diantara mereka yang
daftar mabitnya belakangan, tapi bukan karena malas bermalam, tapi memang
domisili saya tidak di Jakarta, dan saya baru tahu nama Mabit seminggu sebelum
saya memutuskan untuk bergabung. Tak apalah terlambat, dari pada tidak sama
sekali.

 

Satu hal yang istimewa menurut saya adalah cara mereka mewujudkan
keinginan mereka. Belajar serius dari malam hingga subuh. Mengerikan, itulah
kesan pertama saya saat mendengarnya. Dimulai dari penjelasan tentang
pelajaran, kemudian latihan soal yang jumlahnya tidak terkira. Sering juga
diisi dengan latihan soal-soal yang biasa keluar di UAN dan SPMB, dan hal inilah
yang membuat mereka terbiasa dengan soal-soal SPMB, terbiasa pula menggunakan
trik yang bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan soal tersebut. Di saat tengah
malam semua rehat, bersiap untuk qiyamul
lail
(sholat malam) dan beberapa ada juga yang memanfaatkan untuk tidur
sejenak. Setelah sholat malam usai, mereka belajar kembali, biasanya diisi
dengan pelajaran lain. Begitulah cara belajar mereka.

 

Pada malam Jumat, mereka meluangkan waktu untuk mentoring. Belajar
agama, sharing tentang masalah pribadi dan lain-lain. Mereka juga mengadakan
hafalan 99 nama (asmaul husna) setiap kali pertemuan. Diceritakan pula tentang
kebesaran Allah terhadap hambanya yang takwa dimana setiap kali hambanya
mendapati masalah selalu tertolong oleh kasihNya. Dan diajarkan pula kita
bagaimana seharusnya sikap kita pada Allah ketika menghadapi ujian hidup yang
sangat menentukan.

 

Mabiters (Peserta Mabit) juga remaja biasa. Mereka juga sering bercanda,
main game juga, dan yang paling dinanti adalah kesempatan ketika bermain sepak
bola. Dalam bergaul terasa sekali rasa kasih sayang mereka terhadap yang lain.
Mereka saling dekat seperti saudara. Ya, mereka memang saudara, saudara satu
agama, saudara seperjuangan. Yang pandai selalu setia untuk mengajarkan tentang
permasalahan yang belum terselesaiakan oleh Mabiters lain. Dan yang mengalami
kesulitan memiliki nilai juang yang tinggi untuk berusaha memahami, mengerti,
apa yang belum dia pahami.

 

Mereka juga menyadari bahwa mereka adalah manusia biasa. Mereka cuma
bisa berusaha dan berdoa. Dan tetap, keputusan, takdir ada di tangan Allah SWT.
Senantiasa, mereka berdoa agar dipilihkan yang terbaik dan juga memohon agar
pilihannya adalah pilihan terbaik menurutNya. Selain belajar dan berdoa, waktu
mereka habiskan untuk menjaga diri, menjauhi dosa, dan berbuat baik yang bisa
berpengaruh terhadap doa mereka. Mereka melakukan donor darah, sholat malam,
sholat dhuha, puasa, memberi makan kepada mereka yang membutuhkan (sedekah),
dan berbuat baik terhadap sesama. Satu drama yang selalu saya ingat adalah
kejadian di busway ketika kita pulang dari tempat bermain bola di Senayan.
Semua Mabiters lelah, karena saking
semangatnya mereka bermain bola. Kita memilih naik busway, dengan pertimbangan
biaya lebih murah. Namun saat itu kursi busway penuh karena saat itu adalah
jam-jam orang pulang dari kantornya. Beberapa dari mereka ada yang dapat tempat
duduk dan beberapa yang lain tidak. Salah seorang mabiters yang duduk
menawarkan tempat duduknya kepada salah seorang mabiters yang berdiri karena
tidak tega melihat keletihan rekannya. Dengan tawar menawar (paksaan) akhirnya
mabiters yang berdiri duduk, dia berterimaksih dan mendoakan panjang lebar
kepada mabiters yang telah memberikan tempat duduknya agar lulus ujian SPMB.
Kemudian yang memberikan tempat duduk juga membalas doanya supaya dia lulus
ujian juga.

 

Itulah cerita dari Nurul Fikri Mampang tentang Mabiters. Semoga ini
dapat menjadi inspirasi bagi kalian yang hendak ber SPMB atau menghadapi ujian.
Jikalau mengeluh kesulitan mengerjakan soal SPMB lalu menyerah, maka
sesungguhnya banyak di luar sana yang belajar hingga pagi hari namun tetap
menemukan kesulitan dan mereka tidak menyerah namun justru menikmatinya.

 

Saya sangat berterimaksih kepada kalian, Mabiters. Kalian adalah
inspirasi saya. Ikhtiar kalian sungguh sangat luar biasa, Mabiters. Semoga
Allah menyatukan hati kita, selalu.

My Crazy Trip I

November 26th, 2007 by djhard

My Crazy Trip I

(7 Juli 2007)

 

Sebenarnya udah lama pengen cerita ini. Tapi baru sempet sekarang ngetik
dan posting di fs nya. Ini cerita tentang dulu saat harus panik, bolak-balik
Jakarta-Lamongan, gara-gara banyak berkas penting seperti ijazah, akte lahir,
rapot, kartu keluarga dan lainnya ketinggalan, padahal mau daftar STAN dan STIS
yang membutuhkan berkas-berkas tersebut. Terhitung dah dua kali aku bolak-balik
Jakarta-Lamongan dalam masa SPMB. Yang terakhir adalah bolak-balik
Jakarta-Bandung-Jakarta-Lamongan-Jakarta-Bandung, untuk daftar ulang di kampus.
Sebutlah hari pertama aku berangkat adalah di hari pertama (krn aku dah lupa).
Jadi hari pertama siang beli tiket kereta api buat berangkat ke Lamongan pada
hari kedua dan berangkat ke Bandung, harus sampai Bandung pada jam 14.00
padahal dari Jakarta dari jam 12.08. Thanks Mas Supri, mungkin engkau lebih
pantas mengenderai mobilnya Hamilton, dia yang bawa aku ke Bandung ambil
formulir buat daftar ulang, lalu balik ke Jakarta pada sore harinya. Hari kedua
sore aku berangkat ke Lamongan by train, duduk bareng akhwat yang ga pengen
nikah ama ihwan, mau tau napa? Ini rahasia J. Pagi pada hari ketiga sampai di Lamongan dan
nyiapin berkas buat daftar ulang. Besoknya, pada hari keempat sore balik ke
Jakarta dan tiba di keesokan harinya. Hari ke lima waktu dhuha, istirahat
sejenak dan pada siang harinya ke Bandung lagi untuk daftar ulang, crazy trip
selesai.

 

Seru dan kadang-kadang pengen lagi. Itu tadi crazy trip kedua ku selama
masa SPMB. Aku ga crita detilnya karena ga da foto-fotonya, jadi banyak yang
lupa. Tapi yang aku ceritain berikut ni ga kalah seru koq. Semua crazy trip ni
harus aku lakukan karena memang aku bukan orang yang disiplin, suka nunda-nunda
pekerjaan. Udah ah, ga perlu cerita tentang unsur intrinsik, kaya nilai moral
dll, ambil aja hikmahnya ndiri. Ok, mau tau ceritanya? Baca aja.

 

8 Juli 2007 (12.00 WIB)

Siang hari di Jakarta panas banget, kalau di Jakarta aja dah kayak gitu,
gimana panasnya Mesir seperti yang dialami oleh Fahri ya? Hari itu hari Minggu,
kakakku lagi ga kerja. Jadi laptopnya nganggur di rumah, dan bisa aku manfaatin
untuk browse beberapa site yang menarik. Memang, sejak SPMB usai, kegiatanku di
Jakarta jadi banyak yang ga guna. Kalau dulu sering belajar (<–statement
palsu?), setelah SPMB malah sms an ama temen, nonton film, main ke tempat
bimbel, jalan-jalan, dan melamun (ini yang sering, J) ngebayangin gimana jadinya aku besok kalau
keturutan lolos SPMB. Iseng-iseng, aku googling (searching di google) sekolah
kedinasan. Dapat sekitar belasan nama sekolahnya. Tapi yang bikin menarik
sekolah Nuklir D3 di Yogya, dan STIS-STAN (tapi ini jadi menarik buatku karena
ini incaran banyak orang, jadi ga terlalu menarik sih!). Aku masuki web
resminya, dan aku catat informasi pendaftarannya. Lalu pindah ke web resminya
STIS, aku catat infonya dan demikian juga untuk STAN. Karena nulis ku jelek dan
lambat makanya semua kegiatan tadi butuh waktu sekitar 2 jam. Hingga dua jam
kemudian…

 

8 July 2007 (14.00 WIB)

“Dik, udah cek sekolah kedinasannya?”, tanya kakakku ke aku. Aku jawab
udah dan aku berikan catatanku tentang informasi sekolah kedinasan tadi.
Setelah baca catatan tadi, keningnya mengkerut, kemudian dia melihat kalender
yang berada di sisi kanannya. Nampak tidak percaya dengan kalendernya sendiri,
dia juga melihat ulang tanggal hari ini melalui hp dan jam tangannya. “Sekarang
tanggal berapa?”, tanyanya ke aku, dia terlihat seperti gusar. “Ga tau…”,
jawabku ringan. “Ah…minggir-minggir”, dia merebut laptop dariku dan membaca
tentang pendaftaran STIS. Dia menunjukkan bahwa tanggal pendaftaran paling
akhir adalah kurang dari satu minggu lagi (14 Juli 2007), kalau mau daftar
harus buru-buru. Benar, aku harus segera mendaftar, kalau tidak aku ga bisa
ikut seleksi STIS, aku harus buru-buru, buru-buru daftar. Buru-buru daftar? Mau
daftar pakai ijazah daun singkong, itulah yang menjadi masalah ijazahku bersama
kawan-kawannya tertinggal di Lamongan. Aku ga ikut perpisahan SMA, jadi belum 3
jari dan Dan kini, yang menjadi pertanyaannya adalah “Bagaimana cara legalisir
ijazah dan singkong?”. Alah…garing… Pertanyaan diganti, bagaimana cara
mendatangkan ijazahku yang tertinggal ke Jakarta dalam waktu kurang dari satu
minggu. Baiklah, telpon umi dan paksa Umi ke Jakarta untuk bawa ijazah asliku.
Tapi sayang, Umi lagi sibuk dengan project-nya waktu itu di kantor, jadi sering
lembur dan ga bisa ke Jakarta.

 

Waktu terus bergulir udah hampir setengah tiga. Aku katakan kepada
kakakku untuk pergi ke Lamongan segera. “Kapan?”, tanyanya. “Sore ini, jam 5,
naik Gumarang”, jawabku penuh tekad, semangat membara bak seorang pemuda yang
akhirnya mendapat kepercayaan menuju medan perang walau hanya karena panggilan
wajib militer. Terompet dan genderang perang berbunyi, saatnya aku packing baju
untuk satu hari di Lamongan. Tak lupa bawa camdig buat foto-foto teman ku di
Lamongan besok.

 

8 July 2007 (16.00 WIB)

Berangkat dari Mampang, rumah kakakku, kita menuju Gambir. Senang,
takut, tidak percaya, dan khawatir bercampur aduk jadi satu. Senang? Jelas,
karena udah lama ga pulang, waktu itu hampir dua bulan aku tidak pulang. Takut?
Karena ini crazy trip pertama ku, aku jadi takut kalau tiba-tiba entar sakit.
Tidak Percaya? Sebenarnya aku sendiri ga yakin ambil keputusan untuk mbajak Jakarta-Lamongan. Khawatir? Ini
yang tadi ga aku pertimbangkan pas usul crazy trip ke kakakku. Aku lupa kalau
hari itu hari minggu (Nah, kalo harinya aja lupa, gimana aku bisa ingat tanggal
pas ditanya kakakku tadi), hari minggu penggunaan kereta api bisa membludak.
Aku khawatir kalo ga dapet tempat duduk.

 

Dan kekhawatiranku benar. Kursi Gumarang hari itu penuh, habis terjual.
Rupanya kakakku sudah memperkirakan ini sejak awal, di rumah sebelum berangkat
tadi, dia menyembunyikan koran di joknya. “Ni, buat kamu tidur di kereta”,
katanya sambil ngasi korannya ke aku.

“Hei..hei..You must be kidding, right?”

“Of course no, take it!”

“Wait, kenapa ga tanya aja ke pegawai stasiunnya, kali aja ada tiket
untuk besok atau dua hari lagi”.

“Waktu kamu dah ga ada lagi, tetep ikut seleksi STIS atau tidak?”.

“Alright…”, jawabku lesu.

“Nurut aja ya!”

“Whatever”

Akhirnya dia beli satu tiket berdiri untukku. TIket berdiri itu
sebenarnya tiket duduk juga, duduk di lantai kereta. Ada dua pilihan, duduk di
lantai di antara kursi-kursi tapi kepala, badan, kaki diinjak penjual kaki dua
yang menawarkan dagangannya, penjual kaki dua ini walau kakinya dua, namun
dalam hal injak-menginjak lebih kejam daripada penjual kaki lima. Kalau diitung
pakai deret Riemann, dari jumlah mereka dan intensitas mereka menginjak, mereka
sudah bukan penjual kaki dua lagi, melainkan kaki seribu. Atau mungkin bisa
duduk di depan pintu gerbong, di dekat toilet, terhindar dari injakan penjual
kaki seribu, namun bau kencing nan pesing, semriwing, bikin mulut kering, sampai
kucing pun pusing ga bisa bedain mana daging mana kluwing.

 

8 July 2007 (17.00 WIB)

Akhirnya berangkat juga, dan aku memutuskan duduk di depan toilet aja.
“Smeels good”, 150rb duduk di depan toilet, ah udahlah bayangin aja ndiri!
Emang penuh sih, tapi apa memang gini cara PJKA melayani penumpangnya yang
banyak. Harga untuk dapat duduk (nyaman?) di depan toilet seharga 150rb rupiah.
Bayangin harga tiket yang duduk benar-benar nyaman tu 150rb juga. Wah, ni
namanya ga adil, bukannya PJKA tuh udah dilatih untuk adil membagi jadwal
menggunakan jalur kereta api (rel) kepada masing kereta apinya. Kalau udah bisa
adil ke kereta, kenapa ga adil juga ke manusia? (Tapi kalau dilihat seringnya
ada kecelakaan antara dua kereta api, mungkin kata “adil” harap bisa dipahami
konteksnya, hehe).

Akhirnya duduk di depan toilet. Aku desain sedemikian rupa biar nyaman.
Koran dari kakakku langsung aku gelar dan tas yang aku bawa aku jadikan
sandaran punggungku. Selagi aku mencoba nerima kenyataan harus duduk di depan
toilet (bukan apa-apa sih, tapi besok pagi sampai di Lamongan dan sorenya harus
berangkat lagi, kalau tempat duduknya kayak gini pasti capek kan?), tiba-tiba
datang kakek yang sudah berumur menggelar selembar koran yang dia bawa di
sampingku. Beliau terlihat kecapaian bawa barang-barangnya yang nampak berat.
Terlihat bahwa koran yang beliau bawa tak cukup untuk meluruskan kakinya, dan
akhirnya aku membagi beberapa koranku kepada beliau. Kemudian kami saling
berbicara panjang, beliau akan turun di Bojonegoro, beliau ke Jakarta karena
ingin mengantarkan cucunya ke rumah paman dan bibinya lalu jalan-jalan ke dufan
(ancol). Beliau bercerita keceriaan cucunya tersebut dan perjalanan mereka di
Jakarta. Senang sekali nampaknya, namun cerita gembira mereka di Jakarta harus
ditutup dengan kisah duka, duduk di depan toilet kereta.

“Lha inggih tho Dik…Kados pundi ngeten iki. Di kongkon bayar 150 ewu,
Lha koq boten angsal kursi malah lungguh teng ngisor, cedak wc, ambune niku
lho… Wes, pancene ora tepak”, cerita beliau.

(Lha ya kan Dik…Bagaimana ini semua. Disuruh bayar 150rb, lha koq ga
dapat kursi, malah disuruh duduk di bawah, dekat ama wc, baunya itu lho… Wes,
memang ga bener)

Aku cuma bisa tersenyum sambil bilang, bener Pak.

“Tapi Alhamdulillah, Putu kulo kalihan mbahe angsal kursi. Kolo wau
tumbas tiket tiga, namung angsal kaleh ingkang wonten kursi ne, lha kula niki
ingkang kudu ngalah, mboten angsal kursi”, lanjutnya.

(Tapi Alhamdulillah, Cucu saya bersama neneknya dapat tempat duduk. Tadi
beli tiketnya tiga, cuma dapat dua yang dapat kursi, Lha saya ini yang harus
mengalah, ga dapat tempat duduk)

Rupa-rupanya hanya beliau yang laki-laki dalam rombongannya tersebut.
Jadi beliau lah yang mengalah, tiga tiket yang beliau maksud tadi adalah untuk
Istri, beliau, dan ibu dari cucunya (anak perempuannya). Semua tak bisa
mengalah duduk dibawah kecuali sang kakek, bila cucunya atau istrinya yang
mengalah, jelas ga mungkin, bila anak perempuannya, juga ga mungkin karena
sedang mengandung.

 

8 Juli 2007 (22.00)

Tidur… Melupakan pahitnya duduk di depan toilet

 

9 Juli 2007 (03.00)

Wah kertas koran ku basah. Aduh, air toilet banyak yang loncat keluar,
membasahi koranku. Aku harus ganti koran alasku sebelum terlambat. Tapi sayang,
koranku udah aku berikan ke kakek, terpaksa, aku ga ganti koran, dan terpaksa
ga tidur buat jaga-jaga kalo tiba-tiba nanti ga hanya koranku yang basah tapi
juga bajuku (hi…jijik).

 

9 Juli 2007 (06.00)

Walau niat awalnya ga tidur, tapi aku tidur juga sambil duduk. Bangun di
jam enam pagi karena merasakan kereta berhenti. Rupanya sudah sampai Bojonegoro,
si kakek pasti sudah turun karena tidak terlihat lagi di sampingku. Semoga
beliau dipanjangkan umurnya.

 

9 Juli 2007 (06.45)

Sampai Lamongan, dijemput Sandi. He…he… ojek gratis. Sampai rumah
langsung mandi. Amit-amit bau pesing. Setelah mandi, bersiap buat tiga jari cap
di sekolah. Capek juga sih, gara-gara tidur sambil duduk menunduk. Rasanya
tulang leher dan punggungku mau lepas. That’s all cerita ku ttg perjalanan
seruku. Kalau ada orang sableng yang merencanakan kepergian sejauh 800 km dalam
waktu kurang dari 3 jam, ya salah satunya aku. Kalau ada orang kurang disiplin
akibatnya harus melakukan perjalan sejauh 1600 km dalam tiga hari ya salah
satunya aku.

Di siang hari itu, aku bertemu orang-orang yang dekat denganku. Ada si
doi, dan teman-teman lain salah satunya Sugeng. Geng…aku tahu aku banyak salah
ke kamu. Aku tahu besar cintamu ke keluargamu. Aku tahu betapa engkau ingin
mendambakan kebebasan hidup. Dulu kita tertawa bersama, marah bareng, saling
hina, saling ejek, asal kita gembira. Kini, kita jauh, lebih jauh dari jarak
Bandung-Lamongan. Penyakit ginjal kronis mu, merenggut nyawamu (22 November
2007 petang). Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu, menerima segala amalan
baikmu. Selamat tinggal Ugenk, kita semua, aku dan yang lainnya, anak-anak yang
ngopi di depan sekolah, anak-anak yang ngekos di samping gereja, anak-anak yang
nonton piala asia di rumah kamu, anak-anak yang bolos sekolah lalu main ps di
rumahmu, pasti akan merindukan mu. Goodbye Friend!

Welcome to Ardi’s Blog!!

October 15th, 2007 by djhard

Hey, Wassup!!

How are u doing dude? Great must be. Now u’ve entered my blog, my friendster, and you’ll know more about me, about my life, my friends, experience, and many more.

I just want to share my story, opinion, and ideas with u. But dont forget to give ur comment after u read my opinion.

Alright, actually I don’t interest making this site. But my friends have pushed me up to make it. So, if there is lack or something wrong in my blog my friendster, just give me polite critics.

Enjoy my friendster!