My Crazy Trip I
(7 Juli 2007)
Sebenarnya udah lama pengen cerita ini. Tapi baru sempet sekarang ngetik
dan posting di fs nya. Ini cerita tentang dulu saat harus panik, bolak-balik
Jakarta-Lamongan, gara-gara banyak berkas penting seperti ijazah, akte lahir,
rapot, kartu keluarga dan lainnya ketinggalan, padahal mau daftar STAN dan STIS
yang membutuhkan berkas-berkas tersebut. Terhitung dah dua kali aku bolak-balik
Jakarta-Lamongan dalam masa SPMB. Yang terakhir adalah bolak-balik
Jakarta-Bandung-Jakarta-Lamongan-Jakarta-Bandung, untuk daftar ulang di kampus.
Sebutlah hari pertama aku berangkat adalah di hari pertama (krn aku dah lupa).
Jadi hari pertama siang beli tiket kereta api buat berangkat ke Lamongan pada
hari kedua dan berangkat ke Bandung, harus sampai Bandung pada jam 14.00
padahal dari Jakarta dari jam 12.08. Thanks Mas Supri, mungkin engkau lebih
pantas mengenderai mobilnya Hamilton, dia yang bawa aku ke Bandung ambil
formulir buat daftar ulang, lalu balik ke Jakarta pada sore harinya. Hari kedua
sore aku berangkat ke Lamongan by train, duduk bareng akhwat yang ga pengen
nikah ama ihwan, mau tau napa? Ini rahasia J. Pagi pada hari ketiga sampai di Lamongan dan
nyiapin berkas buat daftar ulang. Besoknya, pada hari keempat sore balik ke
Jakarta dan tiba di keesokan harinya. Hari ke lima waktu dhuha, istirahat
sejenak dan pada siang harinya ke Bandung lagi untuk daftar ulang, crazy trip
selesai.
Seru dan kadang-kadang pengen lagi. Itu tadi crazy trip kedua ku selama
masa SPMB. Aku ga crita detilnya karena ga da foto-fotonya, jadi banyak yang
lupa. Tapi yang aku ceritain berikut ni ga kalah seru koq. Semua crazy trip ni
harus aku lakukan karena memang aku bukan orang yang disiplin, suka nunda-nunda
pekerjaan. Udah ah, ga perlu cerita tentang unsur intrinsik, kaya nilai moral
dll, ambil aja hikmahnya ndiri. Ok, mau tau ceritanya? Baca aja.
8 Juli 2007 (12.00 WIB)
Siang hari di Jakarta panas banget, kalau di Jakarta aja dah kayak gitu,
gimana panasnya Mesir seperti yang dialami oleh Fahri ya? Hari itu hari Minggu,
kakakku lagi ga kerja. Jadi laptopnya nganggur di rumah, dan bisa aku manfaatin
untuk browse beberapa site yang menarik. Memang, sejak SPMB usai, kegiatanku di
Jakarta jadi banyak yang ga guna. Kalau dulu sering belajar (<–statement
palsu?), setelah SPMB malah sms an ama temen, nonton film, main ke tempat
bimbel, jalan-jalan, dan melamun (ini yang sering, J) ngebayangin gimana jadinya aku besok kalau
keturutan lolos SPMB. Iseng-iseng, aku googling (searching di google) sekolah
kedinasan. Dapat sekitar belasan nama sekolahnya. Tapi yang bikin menarik
sekolah Nuklir D3 di Yogya, dan STIS-STAN (tapi ini jadi menarik buatku karena
ini incaran banyak orang, jadi ga terlalu menarik sih!). Aku masuki web
resminya, dan aku catat informasi pendaftarannya. Lalu pindah ke web resminya
STIS, aku catat infonya dan demikian juga untuk STAN. Karena nulis ku jelek dan
lambat makanya semua kegiatan tadi butuh waktu sekitar 2 jam. Hingga dua jam
kemudian…
8 July 2007 (14.00 WIB)
“Dik, udah cek sekolah kedinasannya?”, tanya kakakku ke aku. Aku jawab
udah dan aku berikan catatanku tentang informasi sekolah kedinasan tadi.
Setelah baca catatan tadi, keningnya mengkerut, kemudian dia melihat kalender
yang berada di sisi kanannya. Nampak tidak percaya dengan kalendernya sendiri,
dia juga melihat ulang tanggal hari ini melalui hp dan jam tangannya. “Sekarang
tanggal berapa?”, tanyanya ke aku, dia terlihat seperti gusar. “Ga tau…”,
jawabku ringan. “Ah…minggir-minggir”, dia merebut laptop dariku dan membaca
tentang pendaftaran STIS. Dia menunjukkan bahwa tanggal pendaftaran paling
akhir adalah kurang dari satu minggu lagi (14 Juli 2007), kalau mau daftar
harus buru-buru. Benar, aku harus segera mendaftar, kalau tidak aku ga bisa
ikut seleksi STIS, aku harus buru-buru, buru-buru daftar. Buru-buru daftar? Mau
daftar pakai ijazah daun singkong, itulah yang menjadi masalah ijazahku bersama
kawan-kawannya tertinggal di Lamongan. Aku ga ikut perpisahan SMA, jadi belum 3
jari dan Dan kini, yang menjadi pertanyaannya adalah “Bagaimana cara legalisir
ijazah dan singkong?”. Alah…garing… Pertanyaan diganti, bagaimana cara
mendatangkan ijazahku yang tertinggal ke Jakarta dalam waktu kurang dari satu
minggu. Baiklah, telpon umi dan paksa Umi ke Jakarta untuk bawa ijazah asliku.
Tapi sayang, Umi lagi sibuk dengan project-nya waktu itu di kantor, jadi sering
lembur dan ga bisa ke Jakarta.
Waktu terus bergulir udah hampir setengah tiga. Aku katakan kepada
kakakku untuk pergi ke Lamongan segera. “Kapan?”, tanyanya. “Sore ini, jam 5,
naik Gumarang”, jawabku penuh tekad, semangat membara bak seorang pemuda yang
akhirnya mendapat kepercayaan menuju medan perang walau hanya karena panggilan
wajib militer. Terompet dan genderang perang berbunyi, saatnya aku packing baju
untuk satu hari di Lamongan. Tak lupa bawa camdig buat foto-foto teman ku di
Lamongan besok.
8 July 2007 (16.00 WIB)
Berangkat dari Mampang, rumah kakakku, kita menuju Gambir. Senang,
takut, tidak percaya, dan khawatir bercampur aduk jadi satu. Senang? Jelas,
karena udah lama ga pulang, waktu itu hampir dua bulan aku tidak pulang. Takut?
Karena ini crazy trip pertama ku, aku jadi takut kalau tiba-tiba entar sakit.
Tidak Percaya? Sebenarnya aku sendiri ga yakin ambil keputusan untuk mbajak Jakarta-Lamongan. Khawatir? Ini
yang tadi ga aku pertimbangkan pas usul crazy trip ke kakakku. Aku lupa kalau
hari itu hari minggu (Nah, kalo harinya aja lupa, gimana aku bisa ingat tanggal
pas ditanya kakakku tadi), hari minggu penggunaan kereta api bisa membludak.
Aku khawatir kalo ga dapet tempat duduk.
Dan kekhawatiranku benar. Kursi Gumarang hari itu penuh, habis terjual.
Rupanya kakakku sudah memperkirakan ini sejak awal, di rumah sebelum berangkat
tadi, dia menyembunyikan koran di joknya. “Ni, buat kamu tidur di kereta”,
katanya sambil ngasi korannya ke aku.
“Hei..hei..You must be kidding, right?”
“Of course no, take it!”
“Wait, kenapa ga tanya aja ke pegawai stasiunnya, kali aja ada tiket
untuk besok atau dua hari lagi”.
“Waktu kamu dah ga ada lagi, tetep ikut seleksi STIS atau tidak?”.
“Alright…”, jawabku lesu.
“Nurut aja ya!”
“Whatever”
Akhirnya dia beli satu tiket berdiri untukku. TIket berdiri itu
sebenarnya tiket duduk juga, duduk di lantai kereta. Ada dua pilihan, duduk di
lantai di antara kursi-kursi tapi kepala, badan, kaki diinjak penjual kaki dua
yang menawarkan dagangannya, penjual kaki dua ini walau kakinya dua, namun
dalam hal injak-menginjak lebih kejam daripada penjual kaki lima. Kalau diitung
pakai deret Riemann, dari jumlah mereka dan intensitas mereka menginjak, mereka
sudah bukan penjual kaki dua lagi, melainkan kaki seribu. Atau mungkin bisa
duduk di depan pintu gerbong, di dekat toilet, terhindar dari injakan penjual
kaki seribu, namun bau kencing nan pesing, semriwing, bikin mulut kering, sampai
kucing pun pusing ga bisa bedain mana daging mana kluwing.
8 July 2007 (17.00 WIB)
Akhirnya berangkat juga, dan aku memutuskan duduk di depan toilet aja.
“Smeels good”, 150rb duduk di depan toilet, ah udahlah bayangin aja ndiri!
Emang penuh sih, tapi apa memang gini cara PJKA melayani penumpangnya yang
banyak. Harga untuk dapat duduk (nyaman?) di depan toilet seharga 150rb rupiah.
Bayangin harga tiket yang duduk benar-benar nyaman tu 150rb juga. Wah, ni
namanya ga adil, bukannya PJKA tuh udah dilatih untuk adil membagi jadwal
menggunakan jalur kereta api (rel) kepada masing kereta apinya. Kalau udah bisa
adil ke kereta, kenapa ga adil juga ke manusia? (Tapi kalau dilihat seringnya
ada kecelakaan antara dua kereta api, mungkin kata “adil” harap bisa dipahami
konteksnya, hehe).
Akhirnya duduk di depan toilet. Aku desain sedemikian rupa biar nyaman.
Koran dari kakakku langsung aku gelar dan tas yang aku bawa aku jadikan
sandaran punggungku. Selagi aku mencoba nerima kenyataan harus duduk di depan
toilet (bukan apa-apa sih, tapi besok pagi sampai di Lamongan dan sorenya harus
berangkat lagi, kalau tempat duduknya kayak gini pasti capek kan?), tiba-tiba
datang kakek yang sudah berumur menggelar selembar koran yang dia bawa di
sampingku. Beliau terlihat kecapaian bawa barang-barangnya yang nampak berat.
Terlihat bahwa koran yang beliau bawa tak cukup untuk meluruskan kakinya, dan
akhirnya aku membagi beberapa koranku kepada beliau. Kemudian kami saling
berbicara panjang, beliau akan turun di Bojonegoro, beliau ke Jakarta karena
ingin mengantarkan cucunya ke rumah paman dan bibinya lalu jalan-jalan ke dufan
(ancol). Beliau bercerita keceriaan cucunya tersebut dan perjalanan mereka di
Jakarta. Senang sekali nampaknya, namun cerita gembira mereka di Jakarta harus
ditutup dengan kisah duka, duduk di depan toilet kereta.






“Lha inggih tho Dik…Kados pundi ngeten iki. Di kongkon bayar 150 ewu,
Lha koq boten angsal kursi malah lungguh teng ngisor, cedak wc, ambune niku
lho… Wes, pancene ora tepak”, cerita beliau.
(Lha ya kan Dik…Bagaimana ini semua. Disuruh bayar 150rb, lha koq ga
dapat kursi, malah disuruh duduk di bawah, dekat ama wc, baunya itu lho… Wes,
memang ga bener)
Aku cuma bisa tersenyum sambil bilang, bener Pak.
“Tapi Alhamdulillah, Putu kulo kalihan mbahe angsal kursi. Kolo wau
tumbas tiket tiga, namung angsal kaleh ingkang wonten kursi ne, lha kula niki
ingkang kudu ngalah, mboten angsal kursi”, lanjutnya.
(Tapi Alhamdulillah, Cucu saya bersama neneknya dapat tempat duduk. Tadi
beli tiketnya tiga, cuma dapat dua yang dapat kursi, Lha saya ini yang harus
mengalah, ga dapat tempat duduk)
Rupa-rupanya hanya beliau yang laki-laki dalam rombongannya tersebut.
Jadi beliau lah yang mengalah, tiga tiket yang beliau maksud tadi adalah untuk
Istri, beliau, dan ibu dari cucunya (anak perempuannya). Semua tak bisa
mengalah duduk dibawah kecuali sang kakek, bila cucunya atau istrinya yang
mengalah, jelas ga mungkin, bila anak perempuannya, juga ga mungkin karena
sedang mengandung.
8 Juli 2007 (22.00)
Tidur… Melupakan pahitnya duduk di depan toilet
9 Juli 2007 (03.00)
Wah kertas koran ku basah. Aduh, air toilet banyak yang loncat keluar,
membasahi koranku. Aku harus ganti koran alasku sebelum terlambat. Tapi sayang,
koranku udah aku berikan ke kakek, terpaksa, aku ga ganti koran, dan terpaksa
ga tidur buat jaga-jaga kalo tiba-tiba nanti ga hanya koranku yang basah tapi
juga bajuku (hi…jijik).
9 Juli 2007 (06.00)
Walau niat awalnya ga tidur, tapi aku tidur juga sambil duduk. Bangun di
jam enam pagi karena merasakan kereta berhenti. Rupanya sudah sampai Bojonegoro,
si kakek pasti sudah turun karena tidak terlihat lagi di sampingku. Semoga
beliau dipanjangkan umurnya.
9 Juli 2007 (06.45)
Sampai Lamongan, dijemput Sandi. He…he… ojek gratis. Sampai rumah
langsung mandi. Amit-amit bau pesing. Setelah mandi, bersiap buat tiga jari cap
di sekolah. Capek juga sih, gara-gara tidur sambil duduk menunduk. Rasanya
tulang leher dan punggungku mau lepas. That’s all cerita ku ttg perjalanan
seruku. Kalau ada orang sableng yang merencanakan kepergian sejauh 800 km dalam
waktu kurang dari 3 jam, ya salah satunya aku. Kalau ada orang kurang disiplin
akibatnya harus melakukan perjalan sejauh 1600 km dalam tiga hari ya salah
satunya aku.
Di siang hari itu, aku bertemu orang-orang yang dekat denganku. Ada si
doi, dan teman-teman lain salah satunya Sugeng. Geng…aku tahu aku banyak salah
ke kamu. Aku tahu besar cintamu ke keluargamu. Aku tahu betapa engkau ingin
mendambakan kebebasan hidup. Dulu kita tertawa bersama, marah bareng, saling
hina, saling ejek, asal kita gembira. Kini, kita jauh, lebih jauh dari jarak
Bandung-Lamongan. Penyakit ginjal kronis mu, merenggut nyawamu (22 November
2007 petang). Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu, menerima segala amalan
baikmu. Selamat tinggal Ugenk, kita semua, aku dan yang lainnya, anak-anak yang
ngopi di depan sekolah, anak-anak yang ngekos di samping gereja, anak-anak yang
nonton piala asia di rumah kamu, anak-anak yang bolos sekolah lalu main ps di
rumahmu, pasti akan merindukan mu. Goodbye Friend!